Belajar Dari Strategi Perang Khandaq

Perang

Khandaq dalam bahasa Persia artinya adalah parit atau kandak (itu yang digali). Sebutan lain untuk perang ini adalah pertempuran Al-Ahzab, pertempuran Konfederasi, atau pengepungan Madinah. Perang yang berawal dari siasat kaum yahudi Bani Qurayzhah yang melanggar perjanjian dengan kaum muslimin, mereka bergabung dengan pasukan yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb yang berjumlah 10.000 orang dan kaum muslimin yang hanya berjumlah 3.000 orang jumlah ini sudah termasuk ibu-ibu, anak-anak, orang-orang tua, dan panglima perang Rasulullah lainnya. Jadi berdasarkan jumlah ini pasukan umat islam seharusnya sudah kalah telak dibandingkan dengan pasukan kaum musyrikin yang dilengkapi persenjataan lengkap dan pasukan berkuda yang jumlahnya sangat banyak.

Ide Membuat Parit

Mengetahui jumlah kaum musyrikin yang sangat banyak Rasulullah sebagai panglima perang memimpin musyawarah dan saat itu muncul ide dari Salman Al Farisy seorang sahabat Rasulullah yang berasal dari Persia untuk membuat parit yang mengelilingi kota Madinah waktu itu. Dan Rasulullah pun menyetujui ide tersebut. Parit ini diselesaikan dalam kurun waktu 6 hari yang memiliki panjang 5.544 meter, lebar 4,62 meter, dan kedalaman 3, 234 meter sehingga jika kuda masuk kedalam parit itu tidak akan bisa keluar dan jika melompat pun takkan mampu untuk dijangkau.

Strategi Berhasil

Dalam sejarah islam, ini adalah perang yang paling sedikit memakan korban yang pernah dilakukan oleh kaum muslimin yaitu sebanyak 6 syuhada yang tewas dalam pertempuran panah. Perang ini terjadi selama tiga hari sampai turunnya surah Al Ahzab ayat 9 yang berisi “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara (dari malaikat) yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah maha melihat akan apa yang kamu kerjakan.”

Sebelum peristiwa ini juga sempat terjadi pertarungan sengit antara Ali bin Abi Thalib dengan Amr bin Abdu Wudd yang dimenangkan oleh Ali bin Abi Thalib. Awalnya Rasulullah sempat menolak keinginan Ali bin Abi Thalib untuk bertarung melawan Amr bin Abdu Wudd. Rasulullah pun sempat cemas dengan keadaan itu dan beliau menggambarkan pertarungan itu adalah bagian dari pertarungan seluruh umat islam dan yang akan menetukan nasib umat islam kedepannya.

Hikmah

Dari peristiwa ini dapat kita ambil ibroh berupa Strategi dan Keberanian. Ide cerdas dari Salman Al Farisy dan keberanian sosok Ali bin Abi Thalib. Mari kita kaitkan dengan kehidupan sehari-hari kita mungkin perang yang kita rasakan di Indonesia ini bukan seperti yang dilakukan oleh saudara-saudara kita di Mesir, Palestina, Suriah, dll tapi lebih ke perang pemikiran. Dan kita memerlukan keberanian untuk melawan setiap bentuk kezaliman dan kemungkaran dan berani menegakkan keadilan ibarat Ali bin Abi Thalib yang siap mengorbankan jiwa dan raganya untuk memperjuangkan agama Allah.

Oleh : Rasoki Martua (KP KAMMI Ibnu Hayyan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s