Celotehan Seorang Kader : Ramadhan “Ajang Memperbaiki Diri”

Cerita ini berawal dari sebuah hela nafas yang merindukan Sang Khalik, sembari ditemani sebuah netbook, dan secangkir kopi hangat di suatu senja yang hendak temaram. Saya masih ingat, kala itu kalender menunjukkan tanggal 30 Juli, bertepatan dengan hari ke-21 umat Islam menjalankan ibadah puasa. Di suatu sore, kala saya sedang menunggu  berbuka puasa, saya membuka lembaran-lembaran mushaf Al-Quran yang lengkap dengan terjemahannya. Entah mengapa saat itu, saya tiba-tiba ingin membaca tafsir Al-Quran. Di bagian belakang mushaf itu ada beberapa petunjuk ayat dan surat yang menjelaskan tentang segala macam permasalahan dalam hidup yang biasa kita temui, seperti masalah sedekah, silaturahmi, dan masalah keluarga. Ada hal yang membuat saya tertarik kala itu, di bagian indeks keluarga. Q.S. An-Nur ayat 31. Ya, tentunya kita mengetahui apa urgensi dari ayat tersebut.

Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perrhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka atau saudara-saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengehntakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Alloh, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.  (Q.S. An-Nur : 31)

Astagfirullohaladziim. Serasa ditampar bolak-balik, serasa petir langsung menyambar di atas kepala. Sungguh suatu teguran yang sangat luar biasa, karena selama ini saya masih suka main-main dalam menjalankan syariat agama. Orang melihati saya ABANG (Akhwat Banget), padahal hati saya masih dijuluki ATENG, bukan akhwat sekoteng, tapi akhwat setengah-setengah. Saya masih suka berkata “Akh ntar dululah gw pake jilbab yang gede-gede yang selebar taplak meja, toh gw kan masih muda, jadi wajarlah anak muda modis dan gaul, yang penting gw tetep pake jilbab.” Astagfirullohaladziim. Sungguh Engkau lautan ampunan Ya Rab.

Saya merasa bersyukur telah Alloh bawa ke Kota Hujan. Kota yang telah memperkenalkan saya akan tarbiyah yang sesungguhnya. Di sini pula saya diajarkan apa yang disebut Halaqoh. Sebuah lingkaran kecil yang memberi dampak begitu luar biasa bagi kehidupan saya. Saya merasakan perubahan yang sangat luar biasa. Masih lekat di benak saya, saat pertama masuk ke ranah kampus, saya yang dulu begitu PDnya dengan celana jeans, baju ketat, dan jilbab yang hanya sehelai, sedikit demi sedikit mulai berubah. Semester pertama saya pulang ke rumah, saya tanggalkan celana-celana jeans saya. Saya bawa pulang itu celana, dan saya minta  mama saya untuk membelikan rok. Semester pertama mungkin bisa sedikit istiqomah di rok, but jilbabnya kemana? Jilbab seperti jalan jalur Cisarua Puncak, masih buka tutup-buka tutup. Astagfirullohaladziim. Perubahan seseorang itu tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Kembali semester 2, pulang ke rumah sudah tidak membuka jilbab, tapi sayang jilbabnya masih  jilbab paris yang dibeli 2 dengan harga lima belas ribuan di Pasar Anyar. Next, semester 3 pulang jilbabnya sudah double walaupun jilbab paris, tapi kaki belum pakai kaos kaki. So, apa yang terjadi semester 4? Bukannya itu kaki pakai kaos kaki, eh malah kecantol sama gaya jilbab hijabers yang dipelintir-pelintir dan warna yang dimix and match yang lagi trend itu. Astagfirulohaladziim. Kemana jilbab doublenya? Belum selesai sampai di situ, saya masih suka galau gara-gara cowok. Nangis-nangis tidak penting. Update status setiap detik yang isinya hanya galau gara-gara si dia. Laki-laki yang jelas-jelas belum halal bagi saya. Padahal jika saya pergunakan waktu galau saya hanya untuk beribadah kepada Alloh, tentu itu akan sangat mulia.

Semester selanjutnya, mungkin inilah akhirnya. Allah masih sayang sama saya sehingga saya ditegur dengan cara yang baik. Melalui kejadian yang saya ceritakan di awal, hal itu berdampak luar biasa pada diri saya. Mungkinkah itu yang dinamakan hidayah? Entahlah. Sungguh Ramadhan kali ini, begitu membawa perubahan yang luar biasa. Dulu, khatam 30 hari puasa cuma 1 juz, sekarang Alhamdulillah khatam Al-Quran 30 juz. Dulu, Shalat tarawih hanya seminggu awal, Alhamdulillah saat ini full. Ramadahan kali ini begitu berkesan dan memberi makna yang sangat luar biasa. Kebiasaan Shalat Duha dan Shalat Tahajud setiap hari di bulan Ramadahan, Alhamdulillah kini pasca Ramadhanpun masih bisa terjaga. Hafalan Al-Quran InsyaAllah bertambah. Infaq dan sedekah mengalir, serta benang-benang silaturahmi yang kembali dirajut. Semua itu dirasa sangat ringan, ketika kita ikhlas karena Allah dalam menjalankannya, dan hanya mengharap Ridho-Nya. Selain itu, Ramadhan juga membuat hidup saya lebih teratur. Teratur dalam berperilaku, bertutur kata, dan memanage waktu.

Saya merasa bersyukur telah diberikan kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Saya pun sangat bersyukur masih memiliki orang tua yang utuh, merasakan nikmatnya kuliah di AKA, memiliki teman-teman dan murobbi yang luar biasa, dan mengenal indahnya ukhuwah.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. Ar-Rahman)

Maka, sudah tidak ada alasan lagi bagi saya untuk tidak mau bertaubat dan menjalankan syariat agama. Sungguh Allah telah memelihara saya dengan begitu baik, jika bukan tanpa kasih sayang-Nya siapalah diri saya. Hanya manusia yang hina dan berlumur dosa. Saya begitu menyadari bahwa akhirat itu memang benar-benar ada, dan kehidupan setelah dunia ini pasti ada. Mungkin di dunia saya memiliki orang-orang yang begitu menyayangi saya, merasakan hidup nyaman, makan enak, dan pakai pakaian yang layak. Padahal semua itu jelas-jelas tidak akan menolong saya saat hari pembalasan nanti. Hanya amal dan doa anak-anak yang soleh yang akan menyelamatkan saya. Teringat sebuah kalimat yang diutarakan oleh sahabat Nabi Muhammad saw, bahwa “Antara tanda-tanda orang yang bijaksana itu ialah mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia”. (Usman bin Affan ra)

Saya bukanlah kader KAMMI yang luar biasa. Manhaj tugas baca saya hanya sampai buku “Mengapa Aku Mencintai KAMMI”, itupun belum tamat-tamat. Saya bukanlah kader KAMMI yang berstatus AB1, AB2, apalagi AB3. Saya memang bukan kader yang luar biasa, tapi saya ingin menjadi sosok yang luar biasa setelah saya menjadi kader KAMMI. Saya ingin terus mengupgrade ilmu saya, baik dari membaca buku ataupun dari liqoan. Satu hal yang selalu saya ingat bahwa, ketika saya sudah memutuskan untuk berada di jalan ini, maka pantang bagi saya untuk menurunkan bendera kemenangan itu.

Mungkin ini sedikit cerita yang tidak ada artinya, tetapi saya hanya ingin berbagi sedikit pengalaman saja. Semoga ini bisa menjadi pelajaran yang berharga dan kita dapat mengambil hikmah dari semua ini. Kini, saya hanya berjuang untuk tetap istiqomah di jalan ini. Semoga Alloh senantiasa mengetuk hati-hati yang sedang hampa, karena mengaharap pertolongan dan hidayah-Nya.

Salam menulis🙂

***

Oleh Kader Kemuslimahan KAMMI Ibnu Hayyan
PK Akademi Kimia Analisis Bogor
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s