Korelasi Antara Masa Depan Indonesia dan Pemimpin Berkarakter Muslim Negarawan

Indonesia Maju dengan Keteladanan Pemimpin-Pemimpinnya

           Ketika berbicara mengenai pemimpin, tentu ada hubungannya dengan orang yang dipimpin atau dalam hal ini adalah masyarakat. Seyogyanya para pemimpin-pemimpin ini dalam menjalankan amanahnya sebagai sosok yang berperan mengatur dan mensinergiskan komponen-komponen dalam negara, harus mempunyai karakter-karakter yang baik. Mengapa demikian? Suatu negara yang dipimpin oleh sosok-sosok yang mengerti etika, mengerti apa itu pentingnya sifat-sifat teladan, maka rakyat yang mereka pimpin kelak, akan bersinergi dengan apa yang menjadi kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemimpin mereka. Selain itu, perlunya sikap keteladanan pada diri seorang pemimpin sangat berpengaruh pada bentuk penghargaan rakyat pada pemimpin mereka sendiri.

            Keteladanan ini akan bisa diperoleh dari sosok-sosok pemimpin yang mempunyai jiwa-jiwa muslim negarawan. Lantas, apa itu muslim negarawan? Muslim negarawan adalah suatu karakter atau pola kepemimpinan seorang muslim yang selain mampu memanage dan memimpin negaranya, ia pun mampu menerapkan nilai-nilai keislaman dalam menjalankan amanahnya. Hal ini bisa dilihat dari salah satu anggota Komisi X DPR RI, Aan Rohanah, M.Ag. Beliau merambah dunia perpolitikan dengan sebuah misi yang mulia, yaitu beliau ingin memprioritaskan ruang lingkup pendidikan pada pembinaan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia pada peserta didik sesuai dengan UUD 1945 dan UU Sisdiknas. Beliau akhirnya berhasil menerapkan hal ini, walaupun hasilnya tidak semaksimal yang diusahakan. Sehingga beliau pun sukses di rumah tangga dan karirnya.

            Hal ini seharusnya diingat oleh para pemimpin-pemimpin kita. Ketika mereka memutuskan untuk menjadi petinggi-petinggi di DPR RI. Perlunya seorang pemimpin, muslim khususnya, selain mereka memimpin juga mereka harus menerapkan nilai-nilai dakwah dalam menjalankan amanahnya. Hal ini bertujuan agar penjagaan diri dari pemimpin itu sendiri berjalan baik, dan juga rakyat yang dipimpinnya pun akan berjalan seiringan dengan mereka. Tidak perlu pemimpin dari kader-kader partai yang notabene adalah partai-partai Islam, seorang pemimpin tentunya harus bisa menerapkan nilai-nilai dakwah dalam menjalankan amanahnya.

            Keteladanan ini perlu ada, supaya tidak ada pemimpin-pemimpin yang overload istilahnya dalam menjalankan kepemimpinannya. Sehingga akan berpengaruh langsung pada masa depan negara yang dipimpin, dalam hal ini Indonesia. Tidak sedikit pemimpin-pemimpin kita yang tergelincir oleh nafsu-nafsu jabatan yang begitu luar biasa. Tidak sedikit pula pemimpin-pemimpin yang menjadikan jabatan mereka ladang untuk memperkaya diri. Seperti kasus yang baru-baru ini muncul ke permukaan, yaitu kasus suap impor daging yang melibatkan Ahmad Fhatonah, yang sangat luar biasa, uang-uang yang dia peroleh mengalir ke beberapa wanita-wanita, termasuk artis Ayu Azhari dan model Vitalia.

            Ini merupakan cambukan yang sangat besar bagi pemimpin-pemimpin kita. Dimana karakter-karakter yang seperti itu hanya akan menghancurkan negara kita. Pemimpin yang tidak menerapkan pola muslim negarawan, akan lepas kontrol pada dirinya sendiri. Sehingga mau dibawa kemana masa depan bangsa ini. Mau dibawa kemana pula nasib-nasib orang miskin, apakah mau menunggu sampai mereka benar-benar mati karena kelaparan? Padahal pemimpin-pemimpinnya enak-enakan plesiran ke luar negeri. Tentu tidak!

            Karakter-karakter muslim negarawan harus dibina dan dimunculkan pada setiap diri kita. Karena setiap diri kita adalah seorang pemimpin, minimal pemimpin untuk diri sendiri. Hal ini telah dicontohkan oleh sahabat Rasululloh saw, yaitu Said bin Amir al-Jumahy. Beliau terkenal sebagai walikota yang bersahaja di zamannya. Dalam menjalankan amanhanya beliau berprinsip, membeli akhirat dengan menghindari godaan kemewahan dunia dan mengutamakan keridhaan Allol SWT, serta ppahala yang belipat ganda di akhirat yang melebihi kenikmatan di dunia. Sehingga pada saat kepemimpinannya itu, tidak ada rakyat yang kelaparan atau istilahnya di zaman sekarang adalah tidak adanya rakyat yang demo karena permasalahan kenaikan sembako, dll.

            Ini menjadi sebuah evaluasi besar untuk pemimpin-pemimpin kita. Karena bagaimanapun, masa depan bangsa ii tergantung dari bagaiman pemimpinnya mengatur dan mengelola negaranya. Semoga siapapun yang memipin Indonesia saat ini dan kelak, walaupun bukan dari kader partai dakwah, semoga bisa menjadi teladan yang baik bagi rakyatnya dengan menerapkan nilai-nilai keislaman dalam menjalankan kepemimpinannya.

Salam menulis

Aneng Aningsih

Kader KAMMI Komsat Ibnu Hayyan
*Tulisan Peserta National Leadershp Training (DM1) IPB

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s