KARAKTER MUSLIM NEGARAWAN

Assalamualikum Warahmatullahi Wbr.

Ilustrasi

Saya ingin mengingatkan bahwa hari kebangkitan nasional yang akan kita temui pada tanggal 20 Mei mendatang, insya Allah nantinya kita melihat wajah dan corak bangsa Indonesia tentunya telah banyak mengalami perubahan, dan perkembangan seiring dengan perubahan zaman dan tuntutan masyarakat itu sendiri. Mau tidak mau, suka atau tidak perubahan akan menghampiri setiap jengkal waktu yang dilewati. Bukan menunggu atau menghindari perubahan itu, tapi bersiap menghadapi perubahan itu.

Mengingat sosok seorang Muhammad yaitu seseorang yang tidak bisa membaca tetapi dapat mengubah kondisi masyarakat dari jahil (bodoh) menjadi masyarakat cerdas dan berakhlak mulia? Masih ingatkah kita tentang revolusi yang menimpa hampir seluruh jazirah Arab yang dipimpin oleh amir yang tidak amanah? Atau ingatkah mengenai sejarah perjuangan bangsa Indonesia dari sebelum merdeka hingga menjelangnya? Bahkan penghujung tahun 1990-an pun menjadi saksi kehebatan para pahlawan ini dengan menjatuhkan rezim tirani yang telah berkuasa. Siapakah mereka? Mereka tidak kenal lelah meneriakkan yang hak dan mencegah dari yang batil. Mereka yang siap berjuang hingga mengorbankan jiwa mereka? Mereka adalah kaum pemuda. Teringat sang deklarator Negara Indonesia, Bapak Soekarno yang berkata dengan lantang. “Berikan Aku 10 orang pemuda, akan Ku goncangkan Dunia”. Dan kita seorang pemuda yang saat ini mengaku menjadi pemuda tidak inginkah kalian bermanfaat seperti mereka? Banyak yang membutuhkan buah pemikiran kalian, banyak yang menunggu uluran tangan kalian.

Seseorang dikatakan sebagai pemuda bukan dilihat dari usianya, bukan dilihat dari penampilan luarnya saja. Akan tetapi seorang pemuda dapat dilihat dari semangat yang bersemayam di dalam jiwanya. Adalah sebuah keniscayaan kaum muda saat ini dapat mengikuti rekam jejak pendahulunya sebagai dalang dari setiap perubahan-perubahan besar. Caranya yaitu dengan menyiapkan momentum. Sudah bukan lagi zamannya kita, kaum pemuda menunggu datangnya perubahan, akan tetapi kita harus menyambut perubahan itu dengan mempersiapkannya. Pemuda hari ini adalah pemimpin dihari esok. Pemuda saat ini tidaklah lagi berbicara tentang perbedaan, figuritas, atau janji manis tanpa bukti, akan tetapi berbicara tentang persamaan, ide, narasi, mengenai impian masa depan Indonesia dan kinerja tentunya.

Secara tak sadar kita telah memiliki impian besar, gol besar semuanya telah tercantum dalam pedoman kita pancasila sebagai dasar Negara, yang sejak Sekolah Dasar kami telah mengetahui isi dari pedoman dan impian besar itu. Sila pertama mewajibkan seluruh masyarakat Indonesia mempercayai Tuhanan YME. Sila kedua tentang akhlak. Sila ketiga tentang persatuan umat. Sila keempat mengenai musyawarah dan mentaati pemimpin selama Ia tidak salah. Dan ditutup oleh sila kelima tentang keadilan. Semua karakter ini dapat dikerucutkan menjadi dua point besar, yakni religius negarawan atau saya lebih menyukainya dengan sebutan Muslim Negarawan. Muslim negarawan adalah seseorang yang memiliki basis agama (Islam) yang mengakar. Ketika agama dijadikan sebagai ideologi dan terpatri di dalam jiwa maka yang hadir adalah kebaikan dan kebaikan. Sedangkan negarawan adalah orang yang peduli terhadap lingkungan sekitarnya, menjadi perekat dan berkontribusi pada setiap permasalahan yang ada. Menjadi muslim negarawan tidaklah harus memiliki jabatan formal, tapi bisa kita aplikasikan di dalam aktivitas sehari-hari. Ingat, bukan negarawan muslim, tetapi jadilah Muslim Negarawan.

Selain dengan memahami mimpi besar tersebut dan berniat menanamkan diri menjadi muslim negarawan kitapun perlu mencari dan menemukan pemimpin-pemimpin yang memiliki karakter terpuji, agenda utama yang harus diprioritaskan kepemimpinan nasional sekarang dan ke depan adalah pengembangan karakter bangsa (character building).

Ketahanan sebuah bangsa terjadi karena pemimpin dan rakyatnya memiliki karakter yang kuat. Kita bisa bandingkan, misalnya dengan negara-negara seperti Jepang, AS dan Eropa serta kini disusul oleh Korea Selatan dan China. Mereka meraih kemajuan dan kejayaan, antara lain, karena bangsa-bangsa tersebut memberi perhatian lebih pada pembangunan karakter masyarakat dan bangsanya. Sepertinya, ada semacam “hukum alam” bahwa bangsa yang kuat (ketahanannya) serta maju dan jaya (pencapaian pembangunannya) itu tidak semata-mata disebabkan oleh kompetensi, kecanggihan teknologi, dan kekayaan sumber daya alamnya, tetapi yang utama dan terutama justeru lebih disebabkan oleh dorongan semangat dan karakter bangsanya.

Pembangunan karakter bangsa yang dilakukan dari bawah dan keteladanan nyata dari atas serta dilakukan secara berkelanjutan itu pula yang sesungguhnya telah diwasiatkan oleh pemimpin kita terdahulu. Karakter yang menjadi jiwa bangsa yang berbudaya unggul diharapkan menjadi identitas dan jati diri bangsa- negara Indonesia. Sebuah wasiat yang dulu ditegaskan dan dicontohkan oleh pemimpin kita terdahulu, bahwa tugas berat bagi kita dalam mengisi kemerdekaan adalah mengutamakan pelaksanaan pemimpin yang memiliki karakter dan muslim negarawan, dalam artian menjunjung tinggi alquran dan ajaran Muhammad SAW sebagai pedoman pergerakkannya.

Wassalaam…

Oleh: Astriani Ayu Setianingrum

Kader KAMMI Komsat Ibnu Hayyan
*Tulisan Peserta National Leadershp Training (DM1) IPB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s