SASTRA KEPAHLAWANAN

SudarsonoSastra adalah bahasa jiwa yang penuh dengan imajinasi namun melukiskan cerita. Terkadang sastra membawa kehidupan nyata kedalam cerita keabstarkkan. Maka, disanalah keindahannya. Bayi menyampaikan sastranya melalui tangisan, kebencian disastrakan dengan dendam, dan kebahagiaan disastrakan dengan ucapan syukur.
Saya pun menyampaikan sebuah urgensi perjuangan bagi para darah muda dalam bahasa sastra berjudul “Sastra Kepahlawanan”.
SASTRA KEPAHLAWANAN
Khoiru Ummah menapaki jalan nan sejuk, sejuknya pun hingga meneteskan air kehausan. Bersama jiwa yang tergoyang oleh hati kecil menelusuri setiap bangunan sumber kebiadapan. Hasrat yang bergelora melambangkan darah muda para pejuang. Melambaikan bendera kemenangan menuju pusat peradaban. Khudwah tak lagi menjadi panutan. Karena jiwa tak lagi sepadan dengan jasad.

Air kemuliaan menetes haru, membawa gelora baru menuju perubahan nan syamil. Menyanyikan syair-syair pertempuran, mengibarkan panji-panji kemenangan dan mengokohkan setiap benteng pertahanan. Sungguh, duri itu telah menjadi kapuk. Kerikil itu telah menjadi liat. Jalan terjal itu telah menjadi permadani nan elok. Siapa yang di dalam segumpal daging terdapat penyakit hati, maka jiwa Khalid tak dapat merasakan kenikmatannya.

Ghoyah kami adalah kemenangan bagi ummah. Ideologi kami adalah kebenaran. Maka khudwah kami adalah para pengukir cinta. Jasadnya tertanam, menyatu dengan dasar penciptaannya. Jiwanya tertanam, menyatu dengan roh anak negeri.

Mungkin, hanya satu, dua dan tiga. Tapi, sejatinya pahlawan hanya 1 dari 10.000 jiwa. Ku ingin, aku selalu menjadi satu diantara para bintang yang menyinari negeri. Menjadi terterang adalah sebuah cita-cita insan. Disana ada perlombaan, namun tak ada sentimental. Ummah menantikan kecerahan sang bintang. Wahai pemilik jiwa, tunjukkan kami jalan kepatutan. Kami tersandera, padahal kami diciptakan bebas. Karena jiwa ini hanya milik Engkau.

Bergeraklah, berjalanlah, untuk mentaddabburi setiap kejadian. Sehingga engkau tahu karena otakmu bekerja. Sehingga, banyak jiwa yang menemani, tak hanya satu, dua dan tiga. Kami ingin mengajakmu untuk merebut jalan kebaikan. Jalan dakwah kontemporer para jiwa muda. Majulah, dan singsingkan lengan baju untuk menyerang. Seperti sebuah puisi berjudul “Maju” tanda cinta sastrawan Chairil Anwar…
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang

Oleh : Sudarsono
Menteri Kaderisasi PK Ibnu Hayyan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s